Friday, April 9, 2021

Angin Dan Daun Adalah Teman Sekelas

    Menurut Howard Gardner, seorang tokoh pendidikan dan psikologi pencetus teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligences, bahwa satu dari sembilan kecerdasan anak adalah kecerdasan naturalis. Pada anak yang memiliki kecerdasan naturalis ini mereka memiliki ketertarikan lebih untuk selalu dekat dengan alam sekitar dan makhluk hidup di sekelilingnya. Itu sebabnya mereka lebih suka berlama-lama di luar ruangan. Ketertarikan mereka tidak hanya suka menghabiskan waktu di alam bebas saja tetapi lebih dalam lagi yaitu mempunyai keinginan yang tinggi untuk mempelajarinya pula.

    Dan dari dalamnya hutan hujan Kalimantan Timur, ada si naturalis kami yang kesehariannya bermandikan aroma dedaunan. Minat yang tinggi akan kegiatan outdoor seperti  berkebun, bermain lumpur, mendirikan tenda, membuat api unggun, memanjat pohon, cross country  baik itu dengan bersepeda ataupun jalan kaki dan beberapa lagi aktifitas-aktifitas di alam terbuka membuat otak juga tubuhnya semakin ter-stimulasi dengan baik. Bermacam cara telah dipaparkan untuk menggugah daya naturalisnya, membuat kesepakatan kegiatan outdoor sangat membuatnya gembira. Salah satunya adalah lintas alam dengan bersepeda.

Memfasilitasinya dengan membuatkan jadwal bersepeda setiap hari minggu dengan jarak tempuh yang cukup jauh adalah satu dari sederet rutinitas si naturalis ini. Dan jalur yang cukup extreme sering menjadi pilihannya, karena sembari bersepeda juga dapat bermain lumpur.

Dengan membangkitkan kecerdasan anak-anak naturalis melalui berbagai stimulasi, harapan ke depannya akan ada generasi penerus yang dapat bersikap ramah pada makhluk hidup dan alam sekitar.

Bagaimana dengan bocah-bocah di keluarga anda? Adakah yang mempunyai kecerdasan naturalis seperti si mas pesekolah rumah kami? Semoga dengan mengenal dan dekat dengan alam, mereka menjadi lebih sabar, rendah hati, selalu bersyukur dan sepenuh hati mencintai Tuhan penciptanya.


"Angin dan Daun adalah teman sekelas si naturalis. Air dan Lumpur adalah sahabat sehati. Batu, Gunung, Lembah, Hutan, Matahari, Bulan dan Bintang adalah energi. Jadi biarkan mereka bermandikan harumnya, biarkan mereka bertaburan cahayanya karena alam adalah jiwanya."


Kutai Kartanegara,
April 2021


 



Wednesday, March 10, 2021

Aku Tidak Sekolah, Itulah Jalan Ninjaku




"Aku tidak sekolah tapi aku belajar banyak hal yang aku suka dengan apa saja, bersama siapa saja, kapan pun dan dimana pun yang aku mau. Kelasku tanpa sekat, perpustakaanku alam tak berbatas, guruku semua yang mencerahkan dan mata pelajaranku adalah kehidupan yang terkadang tak selalu berjalan sesuai rencana."

    Tidak menitipkan anak-anak ke sekolah formal bukan berarti menjadikan mereka generasi tanpa pengetahuan, kecakapan rendah, pola pikir sempit dan sedikit hubungan. Justru sebaliknya, dalam tanggung jawab penuh pendidikan berbasis keluarga maka orang tua dengan luwes dapat berproses bersama membantu mereka menemukan karakternya. Pola pikir dan hubungan luas pun dapat terbentuk dari banyaknya pertemanan usia. Sedangkan untuk kecakapan dan ketrampilan hidup akan lebih terasah dengan seringnya berkegiatan bersama keluarga dalam kesekharian. 
    
    Memberikan aktivitas ketrampilan dengan bahan apa saja yang ada di sekitar tempat tinggal adalah pembelajaran semurah-murahnya yang berdampak positif. Selain dapat menumbuhkan kreatifitas, menambah ketrampilan hidup, bermanfaat juga agar mengerti bagaimana cara yang baik dalam mengatur pengeluaran. Sehingga lambat laun dapat memberi pemahaman bahwa membeli sesuatu itu yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. 
 
    Dengan situasi yang dikondisikan sedemikian rupa maka belajar akan menjadi efektif. Karena anak-anak dapat belajar apa saja yang disukai dalam suasana yang menyenangkan tanpa paksaan, ancaman, apalagi derai air mata. Belajarpun bukan semata-mata untuk mengejar nilai. Belajar bukan hanya tentang akademik. Belajar itu untuk keluar dari kegelapan, mencari cahaya terang di ujung lorong dengan cara yang berbeda sesuai dengan keunikan masing-masing anak. 
    
    Dan karena belajar itu adalah dorongan dari dalam diri untuk memahami dan memahami apa yang ingin dipelajari bukan apa yang harus dipelajari, maka keinginan belajar dapat muncul dari dalam diri sehingga si pembelajar akan mencari sendiri apa yang ingin diketahuinya. Oleh karena itu, untuk membangkitkan inisiatif anak dalam belajar diperlukan lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang dimaksud bukan hanya tentang ruang, tempat tinggal ataupun suasana sekitar saja. Di mulai dari kenyamanan anak dengan orang tua yang lebih banyak bertanya pada anak daripada selalu memberi perintah, Arah bahkan keharusan melakukan sesuatu sesuai keinginan orang tua. Hal ini bertujuan untuk memberi anak kesempatan berinisiatif menyampaikan pendapatnya. Melalui bincang santai sambil berkegiatan, pertanyaan-pertanyaan ringan saat makan siang atau sambil bercerita menjelang tidur malam terbukti sangat efektif untuk menggali banyak hal tentang diri anak, keinginan dan kebutuhan mereka. 

    Ketika  mendapatkan kelekatan dengan anak-anak maka inisiatif mereka untuk belajar banyak hal akan mengalir begitu saja. Dengan hanya mencontohkan aktivitas keseharian keluarga, maka tanpa diperintah lagi mereka akan mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Tetapi tentu saja ini membutuhkan waktu dan satu kuncian yaitu sabar berproses. Semua bertahap dengan perjalanannya yang berkelok-kelok sesuai karakter masing-masing keluarga tentunya.
    
    Jadi meskipun ada beberapa keluarga yang memilih untuk tidak menitipkan anak-anak mereka di sekolah formal bukan berarti anak-anak tersebut menjadi tertinggal di banyak hal. Anak-anak dan para orang tua itu bertumbuh seiring dengan pembelajaran dalam keseharian yang di bangun tiap keluarga. 

     Itu sebabnya, bagi yang berada di luar jalur ini hendaknya tidak memandang sebelah mata pada anak-anak yang tidak pergi ke sekolah. Jaman telah berubah, di negara kita meski sebagian besar orang tua masih tetap mempercayai putra putri mereka pada sistem belajar konvensional tetapi tak sedikit yang mulai beralih ke jalur pendidikan alternatif ini. 
    
    Berbagai macam pemicu melatarbelakangi perpindahan tersebut. Begitu pula dengan beragam pencarian bentuk serta pola pembelajaran yang tepat pada saat  deschooling atau masa transisi dimana harus mengalami banyak keruwetan dalam peralihan dari sekolah formal ke homeschooling  . Jika anak-anak sangat elastis maka sebenarnya orang tua lah yang harus terlebih dahulu bersiap menjalani proses penyelamatan tersebut. 

    Dan dukungan penuh akan sangat dibutuhkan saat satu keluarga merasa nyaman dengan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak ada seragam dalam mendidik anak karena visi tiap keluarga tidak sama dan keunikan tiap pribadi berbeda-beda maka tidak boleh ada penghakiman bahwa model pendidikan  yang diselenggarakan satu keluarga tersebut sudah tepat ataupun belum. Karena dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semuanya kembali pada kebutuhan masing-masing keluarga. Biarlah mereka berproses mencari sistem terbaik dari sekian penjabaran yang ada. 
      
    Seperti dalam masa pandemi ini, tampaknya sedikit menguntungkan bagi para praktisi homeschooling, karena dengan adanya belajar dari rumah membuat banyak orang tua tertarik untuk memahami apa sebenarnya  homeschooling tersebut . Meski awal dari pemahaman keliru bahwa Belajar Dari Rumah sama dengan Sekolah Rumah, itu wajar. Dan saat mengetahui bahwa kedua hal tersebut ternyata sangat berbeda, setidaknya mereka sudah sedikit mengerti tentang apa itu alternatif pendidikan dengan tidak pergi ke sekolah. Kalaupun sampai banyak keluarga yang pada akhirnya memutuskan untuk beralih ke homeschooling, dapat dikatakan  pandemi telah menjadi salah satu  pemicu  besar terjadinya perpindahan jalur pendidikan. 
    
   Semoga dengan bentuk pendidikan apa pun untuk anak-anak kita, pilihan itu bisa menjadi satu sarana belajar yang membahagiakan.  serupa dengan beberapa keluarga yang memilih homeschooling sebagai kendaraan mereka menuju destinasinya.

“Aku tidak sekolah bukan karena ku tak mau, 
tapi karena aku ingin lebih dari sekadar bersekolah." 


Kutai Kartanegara,
Maret 2021

    
    

    

    
    
    
    






 

Sunday, February 21, 2021

Homeschooling As A Lifestyle


Hai hai haiiii ... masih di kisah-kisah homeschooling dari dalamnya hutan hujan Kalimantan Timur. Dan yang akan saya sampaikan kali ini adalah tentang Homeschooling As A Lifestyle. 

        Pengertian lifestyle seperti yang biasa dijabarkan adalah gaya hidup atau keseluruhan pola dan tatanan hidup seseorang baik itu tentang kegiatan, minat serta hubungannya dengan lingkungan sekitar. Bisa dari pola hidup sehat hingga hal-hal yang dapat menginspirasi orang lain atau malah sebaliknya ada pula gaya hidup yang di anggap tabu, keluar dari pakem atau melenceng dari jalurnya menurut sebagian orang. 
    
        Seperti ketika memutuskan untuk berada di jalur yang bukan formal ini, ternyata banyak sekali yang belum memahami apa itu homeschooling. Bahkan kami pun yang menjalaninya di awal petualangan hanya berpikir bahwa ini adalah alternatif belajar dalam dunia pendidikan. Sarana lain dalam mengembangkan minat serta bakat anak tanpa menitipkannya ke sekolah. Pengertian yang sederhana untuk memulai sesuatu yang besar apalagi hanya dengan berbekal kemantapan hati serta sedikit nekat. Saat memasuki gerbangnya, terasa sunyi, lengang ... kami berjalan saja di jalur yang terlihat aman, karena di kanan kiri ada pula jalur extreme yang bagi pemula pastinya belum lah mumpuni.
    
        Kemudian setelah beberapa bulan berjalan dalam keheningan rutinitas Kelas Tanpa Sekat ini, kami perlahan menemukan ritmenya, pola baru dalam keseharian yang entah itu dari sisi mindset ataupun rhythm of life. Sambil terus belajar bagaimana cara yang tepat dalam penyelenggaraannya yang tentu saja masih meraba ini, menyentuh itu dan mencari warna yang sesuai. 

                Just follow our instincts!
        Di jalani saja sendirian di tengah ribuan pohon sawit di sekeliling rumah sesuai mood dari hari ke harinya. Sampai kemudian mulai ada pertanyaan-pertanyaan klasik yang kerap sekali diajukan kepada para orang tua yang memilih menghantarkan buah hati mereka mencapai apa yang diinginkan melalui pendidikan alternatif berbasis keluarga ini. Beberapa keingintahuan tidak hanya tentang bagaimana kehidupan anak homeschooling  saja tetapi juga keseharian keluarga terutama Ibu. Karena di bagian ini peran ibu sedikit banyak menjadi lebih dominan meski ayah pun tak kalah penting perannya dalam penyelenggaraan homeschooling. 

Bagaimana sih kehidupan keluarga homeschooling itu ? 
Apakah homeschool parents bisa mempunyai me time ?
Bagaimana sosialisasinya ? Kesehariannya ? Pengelolaan emosinya ? 
Dan banyak lagi.

      Di sini, saya, sebagai homeschool mom yang meski masih baru sekali dalam menjalaninya sangat tertantang untuk menceritakan keseharian orang tua dengan anak yang tidak berada dalam jalur formal ini dari sudut pandang saya.
    
        Ya, menyelenggarakan homeschooling di tengah perkebunan kelapa sawit dengan lokasi yang berada di pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di kabupaten Kutai Kartanegara memang penuh percikan. Jauh dari kota, sehingga jauh pula dari tempat bersejarah, museum, perpustakaan dan fasilitas umum lainnya yang biasa dimanfaatkan oleh keluarga homeschooling sebagai tempat pembelajaran. Sedangkan di tempat kami, sejauh mata memandang hanya tampak pepohonan tinggi menjulang, berbagai jenis binatang hutan, anjing-anjing peliharaan masyarakat setempat yang bebas berkeliaran di dalam pasar dan berbaring santai di tengah jalan serta sungai berkelok indah dengan berbagai jenis kendaraan air khas pulau Kalimantan. Tentu saja inipun adalah tempat yang tak kalah mengagumkannya untuk menjalani Kelas Tanpa Sekat dengan memberi ruang luas bagi ananda untuk mengeksplor berbagai macam kegiatan yang dia suka. Salah satunya bersepeda yang hampir setiap hari dikayuhnya mengelilingi perkebunan.
        Tempat ini telah mengajarkannya cara bergaul dengan bermacam suku dan juga teman lintas usia, serta menjadikannya sarana untuk melihat sisi lain dunia. Melihat berbagai jenis binatang liar dari dekat, mempelajari dedaunan, jenis tanah dan bebatuan. Mempelajari cara petani menghasilkan sayuran segar dengan berbagai jenis media tanam. Yang akhirnya mengerucut dengan membuat hidroponik mini sebagai sarana pembelajaran yang dia minta sendiri karena ketertarikan pada instalasinya. Kemudian ketika pohon ceri yang kami tanam mulai tinggi dan berbuah lebat, pesekolah rumah saya mulai belajar memanjat dan memetik buahnya. 
    
        Menjawab pertanyaan tentang sosialisasi kami terutama si pesekolah rumahnya bisa melalui beberapa hal. Semisal dua, tiga atau lebih dari keluarga-keluarga praktisi homeschooling ini biasanya membentuk satu komunitas dimana anak-anak mereka dapat bertemu dan berkegiatan bersama. Di sini terbentuklah satu komunitas homeschooling yang saling mendukung aktifitas para homeschoolers tersebut. 

        Tetapi karena untuk saat ini kami menjalaninya, sendiri tanpa komunitas terdekat. Yang mana dengan kondisi semacam ini mengharuskan kami tetap tangguh menempuh perjalanannya. Kalaupun dapat berhubungan dengan sesama keluarga homeschooling itu hanya bisa dilakukan secara online melalui meet class, zoom, ataupun whatsapp. Meski begitu patut lah bersyukur karena itu sudah cukup untuk kami berdiskusi tentang keadaan, kegiatan dan bermacam hal mengenai Sekolah Rumah. Untuk itu cara pesekolah rumah kami bersosialisasi adalah dengan membebaskannya berteman dengan siapa saja di lingkungan kami tanpa membedakan status sosial, suku dan agama.  

        Dengan hampir semua rutinitas keseharian yang selalu tentang alam sekitar, dedaunan, binatang-binatang, sungai, bebatuan, limbah kelapa sawit, dan banyak lagi, maka jika ada kesempatan pergi ke kota, kami akan pergunakan sebaik mungkin juga bisa sebagai pembelajaran bagi ananda, dari mulai mempersiapkan barang-barang untuk bepergian sampai membuat list apa saja yang akan dilakukan di kota nantinya. Secara garis besar seperti inilah keseharian keluarga kami yang pada akhirnya bisa menjadikan Homeschooling As a Lifestyle.

        Lantas bagaimana dengan saya dan suami, apakah kami mempunyai rutinitas sendiri sebagai sarana melepas penat? Tentu saja ada. Suami, punya cara sendiri untuk membuat dirinya berlari dari kejenuhan rutinitas pekerjaan. Dia lebih suka menghabiskan malam dengan bermain gitar sambil bernyanyi, menonton film atau berkumpul dengan teman-teman yang satu hati ... eaaa, satu hati.

        Untuk saya, sepertinya yang lebih banyak melakukan "pelarian penat" karena saya lah pusat dari kelancaran homeschooling keluarga kami. Dan cerita ini akan saya mulai dari selepas subuh di setiap harinya. Rutinitas yang sama sekali tidak membosankan jika sudah menempatkannya sebagai kewajiban saya untuk berbakti pada keluarga dan menjadikannya sebagai lifestyle. Dengan pemahaman ini maka kami dapat santai menjalaninya. Tidak terbebani dengan jadwal, kurikulum dan sebagainya. Seperti prakiraan cuaca, jadwal yang sudah ada bisa saja berubah sewaktu-waktu, begitu pula metode dan apa-apa saja yang telah tersusun rapi di agenda. Manusia bukanlah boneka besi yang sudah di atur dengan mesin. Jika semua yang sudah di rencanakan ternyata harus berubah pada saat pelaksanaannya tidak lah masalah. Hanya ikuti saja insting. 
    
        Seperti saat suara burung yang semalam tidur di rongga ventilasi jendela Rumah Kebun ini mulai bersenandung menyambut dinginnya fajar, maka itu adalah alarm bagi saya untuk segera melangkah ke dapur setelah sebelumnya saya biasa mandi sebelum adzan subuh. Letak dapur di sisi kanan rumah dengan empat jendela yang menghadap ratusan pepohonan kelapa sawit karena lokasi rumah kami berada di posisi paling ujung. Kegiatan di dapur biasa saya mulai setelah membuka gorden di lima belas jendela rumah kebun ini, eh banyak sekali jendelanya? Yups, memang banyak sekali jendela di rumah mungil ini, seakan di buat agar rumah semakin segar beraroma pepohonan. Aktifitas dari dapur dari menyiangi, memotong, merebus, menggoreng, membuat roti dan lainnya saya mulai sambil sesekali melihat kondisi di luar yang masih tampak gelap, suara serangga malam juga masih terdengar di sela-sela berisiknya nyanyian burung. 
     
        Ketika langit mulai berwarna biru muda, saya buka pintu dapur dan keluar untuk menyapu teras yang mengelilingi rumah sambil memberi makan ikan, menyiram tanaman dan mengajaknya bercakap-cakap sebentar. Kucing belang hitam putih yang menjadi penjaga rumah dari ular dan biawak yang terkadang muncul di sekitar rumah selalu mengikuti kemana saya bergerak, sesekali dia mengeong dan berputar di kaki saya, tak lama setelah menghabiskan makanannya maka dia akan tidur seharian di dalam rumah. Jadi kapan dia menjadi kucing penjaga? ehehee ... 
    
        Di sela-sela rutinitas pagi seperti ini menurut saya dapat pula untuk me-refresh pikiran, karena berjalan bersama kucing mengelilingi halaman dan bercakap-cakap dengan tanaman adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Dan jika si pesekolah rumah sudah mulai berkegiatan yang dapat dia lakukan secara mandiri, disampingnya, sambil kami mengobrol, saya pun akan melatih otak dan jemari agar tetap kreatif. Terkadang saya membuat doodle art dan simple crafting. 
        Semua ini saya jadikan bentuk pelepas penat. Tetap membersamai ananda sambil melakukan hal yang saya suka. Jadi jangan terpaku pada stigma seorang ibu juga membutuhkan me time. Keluarga satu berbeda dengan lainnya, begitupun dengan karakter setiap ibu. Menciptakan sendiri saja hal-hal yang bisa membuat seorang ibu menjadi bahagia dan siap membersamai ananda di setiap harinya. 

"Merubah me time menjadi our time saya rasa lebih bermanfaat bagi kesehatan mental kami, selain membangun kedekatan dapat pula menciptakan kenangan berharga."

        Sedangkan untuk pengelolaan emosi memang masih harus banyak belajar. Yang pasti di saat ada kondisi yang menguras energi dan memancing emosi, biasanya saya akan diam sebentar untuk memikirkan apa yang harus saya katakan dan lakukan. Memberi ruang pada anak untuk berpikir pula dan merasakan emosinya baru kemudian kami akan mulai berdiskusi meluruskan permasalahan. Bagian pengendalian dan pengelolaan emosi memang yang paling sulit, apalagi saat perut kosong dan terjadi hal yang tidak sesuai kesepakatan. Jadi sekarang saya memutuskan untuk mengisi penuh perut sebelum memulai kegiatan bersama. Karena happy tummy, happy mommy ... perut kenyang, pandangan mata terang, hati riang, siap menghadapi hari yang menantang. 
     
        Rutinitas kami seperti ini sebenarnya tidak jauh beda bukan dengan kehidupan orang tua dengan anak-anak yang bersekolah formal, hanya saja dalam keluarga homeschooling seluruh aktifitas ananda baik tentang keseharian dan pembelajaran dalam bentuk apapun adalah menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Yang terlihat berbeda karena anak-anak tidak pergi ke sekolah selayaknya anak-anak pada umumnya. Kemudian cara atau metode belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga sehingga tidak ada yang seragam dalam homeschooling. 
        
        Untuk semua perjalanan yang masih sangat panjang ini, kami sampaikan terimakasih tak terhingga atas dorongan semangat tak berjeda dari PKBM Fanana Insan Baksya yang berlokasi di Malang, Jawa Timur, dimana kami bergabung sebagai warga belajarnya yang telah membuat kami terus berjalan dengan pasti meski harus sendirian menyelenggarakannya tanpa ada komunitas terdekat yang dapat kami datangi untuk dapat berbagi cerita ataupun sesekali berkegiatan bersama. 
        

 "Apapun Lifestyle pilihan anda, Just Follow Your Instincts!"
        

Friday, January 22, 2021

Sekolah Rumah vs Belajar Dari Rumah


Jauh sebelum pandemi, kami telah memilih jalan alternatif yang menyenangkan untuk ananda dalam melejitkan potensinya. Pada waktu itu banyak sekali pertanyaan seputar Sekolah Rumah itu apa dan bagaimana menjalankannya? Dan sampai sekarang saya masih terus belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan bahasa sederhana agar mudah dibayangkan dulu karena mungkin saja masih kesulitan dalam memahaminya. 
Kemudian pandemi melanda, tatanan dunia menjadi jungkir balik. Tak terkecuali dalam hal pendidikan. Semua tidak lagi sama apalagi dikejutkan dengan adanya Belajar Dari Rumah. Hingga tertoreh beberapa kisah kelam di awal pandemi karena pembelajaran dari rumah ini pun tak terelakkan susahnya. Orang tua dan guru kalang kabut dalam pendampingan anak-anak karena memang semua tanpa persiapan lahir batin. Hal ini sangatlah wajar.

Selang beberapa bulan pandemi seakan segalanya masih berputar-putar tentang bagaimana membersamai ananda saat pembelajaran. Banyak bermunculan diskusi-diskusi membahas solusi menjaga kewarasan mental orang tua dan anak, terutama ibu. 

Saya menjadi sangat ingin tahu tentang semua hal tersebut dengan sering bertanya pada teman yang sedang menjalani peran pendampingan belajar dari rumah atau mengikuti beberapa kali diskusi daring yang diadakan oleh para ibu dengan putra putri yang bersekolah formal. Saya menyusup? Tidak. Saya tetap perkenalkan diri saya sebagai homeschool mom.  Dengan resiko harus menahan diri untuk tidak berkomentar banyak karena yang dibicarakan sangat bertentangan dengan prinsip pendampingan ananda di Sekolah Rumah. Ini semata-mata pengayaan informasi untuk diri sendiri pada awalnya, tetapi jika kemudian saya memutuskan untuk membaginya dengan pembaca karena dapat mengetahui pendapat dari berbagai sudut pandang itu tambahan vitamin buat saya. 

Di kesekian kalinya tentang pemaparan Belajar Dari Rumah, ada dua hal klasik yang menjadi keprihatinan saya. Pertama, mindset masih di rentang bahwa belajar itu hanya tentang menambah ilmu pengetahuan. Situasi ini membawa rasa bahwa pembelajaran dari rumah menjadikan anak-anak kekurangan ilmu, baik dalam hal akademis maupun kegiatan lain yang berhubungan dengan membaca, menulis, berhitung, menggambar untuk yang masih usia dini. Adapula rasa takut tertinggal pelajaran, menurunnya nilai rapor, sosialisasi berkurang serta merasa tidak mendapatkan pembelajaran dalam pembentukan karakter. Yang kedua, mendampingi putra putri itu konsepnya terbatas pada saat jam pembelajaran daring saja. Belum nampak catatan tentang pemberdayaan lifeskills dan bagaimana menjadikan kondisi pandemi ini sebagai life lesson. Tentang bagaimana cara mengelola kebosanan anak-anak atau semua anggota keluarga adalah juga salah satu pelajaran berharga. Itupun masih luput dari pengamatan karena semua masih terpusat pada akademis dan cara mengajar mereka yang dikondisikan seperti situasi guru dan murid dalam kelas. Mungkin jika saya masih berada di jalur formal juga akan merasakan hal yang sama karena semua kegiatan masih di rancang oleh sekolah. Sehingga perbincangan tentang apa itu belajar dapat dikatakan sangat sempit. Padahal belajar itu bukan hanya tentang menambah atau memasukkan ilmu tetapi mengeluarkan apa yang ada dalam diri, memantiknya hingga berkobar. Seperti halnya para penemu di masa lampau, mereka bukan belajar bagaimana cara membuat sesuatu tetapi mengasah cara memunculkan ide untuk kemudian diwujudkan menjadi sesuatu yang baru. Belajar juga bukan tentang ilmu pengetahuan saja. Banyak hal dalam keseharian yang bisa dinamakan belajar. Bercocok tanam, membersihkan dan menata ulang kamar, menyiangi ikan, memandikan kucing dan lain sebagainya yang dilakukan bersama-sama itu juga adalah belajar. 
Begitu pula dengan gegap gempitanya pembentukan karakter. Karena hampir semua sekolah mendengungkan lingkungan dengan standar tertentu adalah yang paling tepat untuk pembentukan karakter para siswa, maka ketika harus Belajar Dari Rumah ada ketakutan tersendiri bahwa karakter anak-anak akan menurun, kemudian melemah. Sejatinya kita semua lahir sudah membawa karakter masing-masing dan ini tugas utama orang tua sebagai pendampingnya, bukan guru, sekolah ataupun lembaga lainnya. Kalau boleh saya petik dari pemikiran Emha Ainun Najib, bahwa"peran orang tua bukan untuk membentuk karakter anak melainkan membantu menemukannya." Jelas sudah di sini, bahwa karakter anak-anak tidak di bentuk dalam standarisasi tertentu melainnya perlu didampingi saat pencariannya, dan orang tua lah sebagai pendamping pertama mereka.

Tetapi terlepas dari semua perbedaan ini, saya tidak berhak menghakimi bukan? Karena tiap keluarga mempunyai pemikiran dan kebutuhan yang berbeda. Dan lagi, dunia sudah pandai, hanya terkadang masih sering terbawa perasaan. Terlalu melankolis sehingga sisi sentimentil yang banyak dipertontonkan.

"Ayo menguat bersama dengan menghargai bermacam cara dalam mendidik putra putri bangsa yang diterapkan di tiap-tiap keluarga, agar rasanya menjadi sangat Indonesia ."

Salam Toleransi 































 

Tuesday, December 29, 2020

Kepompong Khalamanta



Kami adalah keluarga yang dalam menjalankan homeschooling ini masih ibarat seekor ulat kecil berwarna hijau. Menetas dari telur kupu-kupu berwarna terang yang menyukai hangatnya mentari jam sembilan pagi. Sebagai ulat kecil kami sangat ingin mengetahui apa saja yang ada di sekitar tempat tinggal kami. Semua daun yang terlihat segar kami makan tak bersisa. Itulah yang membuat kami tidak berhenti di satu pohon, selalu ingin mencoba berpindah tempat karena begitu menariknya dedaunan di sekeliling. 

Padahal jika mengingat saat kami masih dalam cangkang telur, semua tampak sama, semburat
warnanya pucat sekali. Keadaan kami pada waktu itu tergantung pada daun yang kami tumpangi, jika tertiup angin ke kiri maka kami pun akan ikut bergoyang ke arah kiri. Saat datang hujan badai, kami pun akan merasakan betapa kuat hempasan anginnya. Dan jika matahari sedang terik, kami pun akan merasakan gerah yang luar biasa. Kami belum punya pilihan harus bagaimana mengatasi berbagai keadaan yang datang silih berganti. 

Kemudian tiba di hari kami akan menetas, terlihat retak-retak kecil pada sebagian cangkang sehingga kami mulai bisa mengintip dari celah sempitnya. Sekilas banyak sekali warna indah dengan sinar jingga yang sangat terang. Tercium aroma tumbuhan, ada semilir angin masuk melalui retakan yang semakin mengangga sewaktu terdorong. Saat itu rasanya kami ingin sekali segera keluar dari himpitan sang cangkang.  

Dan di pagi buta kala itu ...
KRAKKKK!!!
Pecahlah belenggu cangkang. Waaahhh di luar begitu segar. Mata kami membelalak melihat alam begitu megah. Warna warni indah sekali, ada dedaunan yang basah menghijau tertutupi embun di sepanjang mata memandang, ada aroma bunga-bunga dan ada pula suara-suara alam. Segera kami berjalan untuk menjelajah sekitar. Meski cara berjalan kami masih lambat tapi bisa melihat dunia luar itu sangat menyenangkan. 

Kemudian, ulat-ulat kecil yang setelah beberapa waktu lalu keluar dari cangkang telur itu sekarang mulai menggeliat untuk bisa berjalan cepat mencari dedaunan segar karena itu membuat perut kami selalu lapar. 

Dari sinilah siklus hidup ulat-ulat kecil di mulai. Dimana selalu berharap bahwa fase yang akan dilalui dapat menjadi metamorfosa sempurna. Tetapi kami masih seekor ulat yang belum berani berandai-andai untuk menjadi kupu-kupu cantik. Harapan untuk menjadi kepompong saja masih harus melalui beberapa tahap. Karena sebagaimana ulat, kami akan mengalami pergantian bulu sekitar 5 atau 6 kali untuk kemudian kami akan menjadi kepompong. 

Jadi kami akan menikmati dulu menjadi seekor ulat yang berpetualang dalam sunyi rimba pulau terbesar di Indonesia ini. Seperti halnya keluarga terdahulu kami yang juga menjadi penghuni Khalamanta atau yang sekarang lebih di kenal dengan nama Kalimantan. Pulau dengan hutan hujan megah yang dijadikan sebagai salah satu paru-paru dunia.  

Keluarga besar kami adalah kupu-kupu tangguh dari tanah Jawa yang berpetualang di pulau berhawa panas ini sejak puluhan tahun yang lalu. Untuk kemudian kami pun dalam takdir indah mengikuti jejak mereka di tarik oleh pesona air sungai Mahakam yang mengandung "pelet" sehingga kami pun menuliskan jurnal kehidupan di pulau ini. Babak yang serupa tapi sebenarnya berbeda dari pendahulu kami. 

"Menjadi Kepompong Khalamanta adalah jalan yang harus kami lalui sesaat lagi."

Jika sampai waktunya, kepompong akan memberikan kamuflase untuk melindungi ulat yang sedang bermetamorfosis. Kebanyakan ulat akan membuat kepompong mereka di lokasi yang tersembunyi, seperti bagian bawah daun, di pangkal pohon, atau di cabang kecil.

Nantinya tidak akan ada istirahat di dalam kepompong. Ada banyak hal yang dilakukan di dalamnya. Dalam fase ini mengharuskan tubuh ulat yang lama dipecah untuk berubah menjadi makhluk baru. Dan pada beberapa jenis ulat, prosesnya bisa memakan waktu yang sangat lama. Harapan besarnya ketika sudah berada dalam rajutan kepompong yang penuh aktifitas itu, kami tetap tenang dan benar-benar dapat mempergunakan waktunya dengan sebaik mungkin.  

Ketika saat yang di tunggu tiba, barulah akan ada kupu-kupu cantik yang bersiap untuk keluar dari rajutan rumah kepompongnya. Sungguh proses menakjubkan yang dipersembahkan semesta.

  
Oleh karena itu "Dalam situasi apapun, jangan biarkan emosimu mengalahkan kecerdasanmu." 
-BUYA HAMKA- 

 










 






Monday, December 21, 2020

Homeschooling itu "Belantara"


Akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali pro kontra tentang apa itu homeschooling. Dari penjabaran tentang cara menyelenggarakannya sampai metode dan kurikulum apa yang sebaiknya digunakan. Boom!!! Membuat saya berpikir apa yang saat ini saya dan keluarga jalani sudah tepat? Kok jadi meresahkan. Saya takut pendidikan si pesekolah rumah saya gagal. Kekhawatiran yang wajar terjadi, untuk itu haruslah secepatnya mencari pencerahan. Meski semakin banyak berselancar untuk mendapatkan bermacam informasi itu pastinya akan semakin membuat bimbang tetapi tetap saya lakukan. Bertukar pikiran dengan sesama homeschool mom dan mengikuti berbagai bentuk community sharing tentang pengalaman-pengalaman keluarga mereka dalam menjalankan homeschooling adalah pembelajaran untuk menemukan titik cerah yang saya cari.

Dan di satu pagi dengan aroma khasnya alam pedalaman saya memasak sambil sesekali memandang hujan deras dari jendela dapur. Mengingat setelah sekian waktu di tengah pusaran rumit soal cerita yang saya ciptakan sendiri ini belum kelar juga, sepertinya lebih baik memutuskan untuk tidak perlu menemukan jawaban apakah homeschooling  yang saya dan keluarga selenggarakan ini sudah tepat atau belum. Kembali saja ke proses awal, ikuti saja ritmenya, dampingi saja semua aktifitasnya. Sesederhana itu? Ya, kalaupun harus belajar dengan banyak buku tidak masalah, tanpa buku dan tidak menghafal apapun tak mengapa, model yang terstruktur maupun tidak, dengan atau tanpa metode, apapun itu bentuknya yang penting si pesekolah rumah menikmati kegiatannya. 

Karena saat memasuki homeschooling zone maka kita seakan berada di tengah belantara. Yang dibutuhkan adalah insting kuat dan mental baja untuk tetap tenang dalam menentukan arah agar dapat menemukan jalan mana yang paling nyaman untuk dilalui menuju tempat yang kita inginkan. Untuk itu bawalah bekal secukupnya, meski nanti di tengah jalan perbekalan menipis janganlah terlalu khawatir, di belantara ada beribu macam cara untuk mendapatkan sesuatu untuk di makan dan di minum karena alam telah sangat berbaik hati menyediakannya. Khawatirlah jika perbekalan terlalu banyak bisa-bisa beban di punggung malah menghambat laju perjalanan.

Pencerahan di tengah derasnya hujan di bulan-bulan penghujung akhir tahun telah memberi lonjakan semangat baru bahwa homeschooling adalah satu keyakinan dari sebuah keluarga yang ingin menghantar anak-anak mereka dengan cara berbeda di tiap-tiap rumahnya. Jadi biarlah di luar sana sedang mempermasalahkan definisi, bentuk dan metode yang seharusnya digunakan. Kembalikan saja kepada kebutuhan keluarga sendiri, yang mengikuti arus hanyalah ikan mati. 

Untuk semua keluarga homeschooling, teruslah belajar, bukalah pola pikir seluas mungkin, gali potensi kekuatan keluarga sedalam-dalamnya. Hempaskan semua keraguan dan pikiran negatif serta ketakutan-ketakutan yang dapat menjegal langkah kita. Bersiap selalu dengan segala kemajuan teknologi sehingga dapat mendidik anak-anak kita sesuai dengan jamannya. 

Karena di dunia ini "Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil." 
-BUYA HAMKA-
















Wednesday, October 21, 2020

Kutai Kartanegara & Nim's Island


Memandang hasil tangkapan dari kamera smarphone inilah yang dapat menggambarkan mengapa saya jatuh cinta pada tempat sunyi meski harus sering bertemu dengan banyak spesies serangga yang selalu saya takuti, Tanah Hulu. Tempat bernaung dari segala macam rasa. Tempat aman bersembunyi dari hiruk pikuk kota. Tempat berteduh dari segala susahnya berjalan di keramaian dunia. Dan disinilah tempat saya duduk terdiam memandang kagum akan ciptaanNya. 

    Saya, dengan semua kekurangannya, bersyukur selalu dapat menjadi produktif di "Negri Dongeng" Kutai Kartanegara ini, meski di "Bumi Biru" Malang pun tetap pula berusaha seproduktif mungkin. Semua itu karena menjadi modern mom  setidaknya bisa menghasilkan sesuatu yang suatu saat nanti dapat di kenang, sekalipun oleh diri saya sendiri. Bersyukur pula karena Dia telah membawa saya dalam takdir terbaik, membersamai ananda dalam semua rutinitasnya. Melihat dia bertumbuh di Kelas Tanpa Sekat, Homeschooling yang sedari awal penyelenggaraannya tidak mengacu pada metode apapun, hanya terstruktur agar ananda selalu disiplin tetapi dijalani sealamiah mungkin sebagaimana lingkungan sekitarnya.

    Untuk kemudian menjadi sangat sering melakukan Lintas Alam adalah karena arus ritme keseharian yang memang tinggal di tengah perkebunan yang bersinggungan langsung dengan hutan. Kondisi saat ini rasanya seperti film Nim's Island yang pernah saya tonton di tahun 2008. Waktu itu saya suka sekali melihat film adventure ini. Film yang bercerita tentang Nim, seorang anak perempuan kecil yang mengikuti orang tuanya melakukan penelitian di tengah laut. Pada penelitian tersebut kapal yang mereka gunakan untuk berlayar terlalu dekat dengan kerumunan paus. Saat terjadi ombak besar, paus-paus itu pun menyerang mereka dan ibu Nim terseret oleh paus tersebut. Menghilang dan tidak kembali lagi. Nim dan ayahnya sangat sedih dan bertekad akan mengelilingi lautan di bumi untuk menemukan ibunya. Namun mereka malah terdampar di pulau tak berpenghuni. Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut. Kemudian Nim mulai berteman akrab dengan hewan-hewan di pulau tersebut. Interaksi dengan orang luar hanya dilakukan kepada kapal barang yang terkadang mereka temui. Kapal barang tersebut memasok keperluan sehari-hari, termasuk buku bacaan. Ya, pada akhirnya Nim menjalani homeschooling di tengah pulau terpencil dengan segala yang berakar pada alam.
    
    Dan saya ingat sekali saat menonton film tersebut saya membayangkan pasti nyaman sekali berada di tengah alam sambil belajar segala hal meski tanpa bersekolah formal. Berkegiatan bersama angin, daun, air, dan bintang di malam hari sungguh satu hal yang waktu itu hanya ada dalam bayangan saya. Dan ternyata Dia membawa saya dalam heningnya Tanah Hulu dengan rutinitas bersama ananda di segala kegiatan yang berujung dengan Nature Walk. Semua mengalir begitu saja bahkan saat rasa jenuh yang juga terkadang singgah, terapinya pun menyatu dengan alam yaitu Forest Bathing. Blusukan di celah-celah daun dan rimbunnya pepohonan untuk menghirup aroma murni hutan hujan tropis memang tidak tertandingi. Tidak ada liburan lain yang saya inginkan selain kembali ke alam meski setiap detik berada dan hidup di tengah derasnya hujan di hari-harinya hutan hujan ini. 

 Itulah mengapa jika ada yang bertanya kenapa betah sekali di perkebunan, jawabnya karena saya jatuh cinta pada alamnya. Ya, Kutai Kartanegara & Nim's Island adalah sekilas bayangan yang menjadi kenyataan. Thanks God.