Friday, January 22, 2021

Sekolah Rumah vs Belajar Dari Rumah


Jauh sebelum pandemi, kami telah memilih jalan alternatif yang menyenangkan untuk ananda dalam melejitkan potensinya. Pada waktu itu banyak sekali pertanyaan seputar Sekolah Rumah itu apa dan bagaimana menjalankannya? Dan sampai sekarang saya masih terus belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan bahasa sederhana agar mudah dibayangkan dulu karena mungkin saja masih kesulitan dalam memahaminya. 
Kemudian pandemi melanda, tatanan dunia menjadi jungkir balik. Tak terkecuali dalam hal pendidikan. Semua tidak lagi sama apalagi dikejutkan dengan adanya Belajar Dari Rumah. Hingga tertoreh beberapa kisah kelam di awal pandemi karena pembelajaran dari rumah ini pun tak terelakkan susahnya. Orang tua dan guru kalang kabut dalam pendampingan anak-anak karena memang semua tanpa persiapan lahir batin. Hal ini sangatlah wajar.

Selang beberapa bulan pandemi seakan segalanya masih berputar-putar tentang bagaimana membersamai ananda saat pembelajaran. Banyak bermunculan diskusi-diskusi membahas solusi menjaga kewarasan mental orang tua dan anak, terutama ibu. 

Saya menjadi sangat ingin tahu tentang semua hal tersebut dengan sering bertanya pada teman yang sedang menjalani peran pendampingan belajar dari rumah atau mengikuti beberapa kali diskusi daring yang diadakan oleh para ibu dengan putra putri yang bersekolah formal. Saya menyusup? Tidak. Saya tetap perkenalkan diri saya sebagai homeschool mom.  Dengan resiko harus menahan diri untuk tidak berkomentar banyak karena yang dibicarakan sangat bertentangan dengan prinsip pendampingan ananda di Sekolah Rumah. Ini semata-mata pengayaan informasi untuk diri sendiri pada awalnya, tetapi jika kemudian saya memutuskan untuk membaginya dengan pembaca karena dapat mengetahui pendapat dari berbagai sudut pandang itu tambahan vitamin buat saya. 

Di kesekian kalinya tentang pemaparan Belajar Dari Rumah, ada dua hal klasik yang menjadi keprihatinan saya. Pertama, mindset masih di rentang bahwa belajar itu hanya tentang menambah ilmu pengetahuan. Situasi ini membawa rasa bahwa pembelajaran dari rumah menjadikan anak-anak kekurangan ilmu, baik dalam hal akademis maupun kegiatan lain yang berhubungan dengan membaca, menulis, berhitung, menggambar untuk yang masih usia dini. Adapula rasa takut tertinggal pelajaran, menurunnya nilai rapor, sosialisasi berkurang serta merasa tidak mendapatkan pembelajaran dalam pembentukan karakter. Yang kedua, mendampingi putra putri itu konsepnya terbatas pada saat jam pembelajaran daring saja. Belum nampak catatan tentang pemberdayaan lifeskills dan bagaimana menjadikan kondisi pandemi ini sebagai life lesson. Tentang bagaimana cara mengelola kebosanan anak-anak atau semua anggota keluarga adalah juga salah satu pelajaran berharga. Itupun masih luput dari pengamatan karena semua masih terpusat pada akademis dan cara mengajar mereka yang dikondisikan seperti situasi guru dan murid dalam kelas. Mungkin jika saya masih berada di jalur formal juga akan merasakan hal yang sama karena semua kegiatan masih di rancang oleh sekolah. Sehingga perbincangan tentang apa itu belajar dapat dikatakan sangat sempit. Padahal belajar itu bukan hanya tentang menambah atau memasukkan ilmu tetapi mengeluarkan apa yang ada dalam diri, memantiknya hingga berkobar. Seperti halnya para penemu di masa lampau, mereka bukan belajar bagaimana cara membuat sesuatu tetapi mengasah cara memunculkan ide untuk kemudian diwujudkan menjadi sesuatu yang baru. Belajar juga bukan tentang ilmu pengetahuan saja. Banyak hal dalam keseharian yang bisa dinamakan belajar. Bercocok tanam, membersihkan dan menata ulang kamar, menyiangi ikan, memandikan kucing dan lain sebagainya yang dilakukan bersama-sama itu juga adalah belajar. 
Begitu pula dengan gegap gempitanya pembentukan karakter. Karena hampir semua sekolah mendengungkan lingkungan dengan standar tertentu adalah yang paling tepat untuk pembentukan karakter para siswa, maka ketika harus Belajar Dari Rumah ada ketakutan tersendiri bahwa karakter anak-anak akan menurun, kemudian melemah. Sejatinya kita semua lahir sudah membawa karakter masing-masing dan ini tugas utama orang tua sebagai pendampingnya, bukan guru, sekolah ataupun lembaga lainnya. Kalau boleh saya petik dari pemikiran Emha Ainun Najib, bahwa"peran orang tua bukan untuk membentuk karakter anak melainkan membantu menemukannya." Jelas sudah di sini, bahwa karakter anak-anak tidak di bentuk dalam standarisasi tertentu melainnya perlu didampingi saat pencariannya, dan orang tua lah sebagai pendamping pertama mereka.

Tetapi terlepas dari semua perbedaan ini, saya tidak berhak menghakimi bukan? Karena tiap keluarga mempunyai pemikiran dan kebutuhan yang berbeda. Dan lagi, dunia sudah pandai, hanya terkadang masih sering terbawa perasaan. Terlalu melankolis sehingga sisi sentimentil yang banyak dipertontonkan.

"Ayo menguat bersama dengan menghargai bermacam cara dalam mendidik putra putri bangsa yang diterapkan di tiap-tiap keluarga, agar rasanya menjadi sangat Indonesia ."

Salam Toleransi 































 

Tuesday, December 29, 2020

Kepompong Khalamanta



Kami adalah keluarga yang dalam menjalankan homeschooling ini masih ibarat seekor ulat kecil berwarna hijau. Menetas dari telur kupu-kupu berwarna terang yang menyukai hangatnya mentari jam sembilan pagi. Sebagai ulat kecil kami sangat ingin mengetahui apa saja yang ada di sekitar tempat tinggal kami. Semua daun yang terlihat segar kami makan tak bersisa. Itulah yang membuat kami tidak berhenti di satu pohon, selalu ingin mencoba berpindah tempat karena begitu menariknya dedaunan di sekeliling. 

Padahal jika mengingat saat kami masih dalam cangkang telur, semua tampak sama, semburat
warnanya pucat sekali. Keadaan kami pada waktu itu tergantung pada daun yang kami tumpangi, jika tertiup angin ke kiri maka kami pun akan ikut bergoyang ke arah kiri. Saat datang hujan badai, kami pun akan merasakan betapa kuat hempasan anginnya. Dan jika matahari sedang terik, kami pun akan merasakan gerah yang luar biasa. Kami belum punya pilihan harus bagaimana mengatasi berbagai keadaan yang datang silih berganti. 

Kemudian tiba di hari kami akan menetas, terlihat retak-retak kecil pada sebagian cangkang sehingga kami mulai bisa mengintip dari celah sempitnya. Sekilas banyak sekali warna indah dengan sinar jingga yang sangat terang. Tercium aroma tumbuhan, ada semilir angin masuk melalui retakan yang semakin mengangga sewaktu terdorong. Saat itu rasanya kami ingin sekali segera keluar dari himpitan sang cangkang.  

Dan di pagi buta kala itu ...
KRAKKKK!!!
Pecahlah belenggu cangkang. Waaahhh di luar begitu segar. Mata kami membelalak melihat alam begitu megah. Warna warni indah sekali, ada dedaunan yang basah menghijau tertutupi embun di sepanjang mata memandang, ada aroma bunga-bunga dan ada pula suara-suara alam. Segera kami berjalan untuk menjelajah sekitar. Meski cara berjalan kami masih lambat tapi bisa melihat dunia luar itu sangat menyenangkan. 

Kemudian, ulat-ulat kecil yang setelah beberapa waktu lalu keluar dari cangkang telur itu sekarang mulai menggeliat untuk bisa berjalan cepat mencari dedaunan segar karena itu membuat perut kami selalu lapar. 

Dari sinilah siklus hidup ulat-ulat kecil di mulai. Dimana selalu berharap bahwa fase yang akan dilalui dapat menjadi metamorfosa sempurna. Tetapi kami masih seekor ulat yang belum berani berandai-andai untuk menjadi kupu-kupu cantik. Harapan untuk menjadi kepompong saja masih harus melalui beberapa tahap. Karena sebagaimana ulat, kami akan mengalami pergantian bulu sekitar 5 atau 6 kali untuk kemudian kami akan menjadi kepompong. 

Jadi kami akan menikmati dulu menjadi seekor ulat yang berpetualang dalam sunyi rimba pulau terbesar di Indonesia ini. Seperti halnya keluarga terdahulu kami yang juga menjadi penghuni Khalamanta atau yang sekarang lebih di kenal dengan nama Kalimantan. Pulau dengan hutan hujan megah yang dijadikan sebagai salah satu paru-paru dunia.  

Keluarga besar kami adalah kupu-kupu tangguh dari tanah Jawa yang berpetualang di pulau berhawa panas ini sejak puluhan tahun yang lalu. Untuk kemudian kami pun dalam takdir indah mengikuti jejak mereka di tarik oleh pesona air sungai Mahakam yang mengandung "pelet" sehingga kami pun menuliskan jurnal kehidupan di pulau ini. Babak yang serupa tapi sebenarnya berbeda dari pendahulu kami. 

"Menjadi Kepompong Khalamanta adalah jalan yang harus kami lalui sesaat lagi."

Jika sampai waktunya, kepompong akan memberikan kamuflase untuk melindungi ulat yang sedang bermetamorfosis. Kebanyakan ulat akan membuat kepompong mereka di lokasi yang tersembunyi, seperti bagian bawah daun, di pangkal pohon, atau di cabang kecil.

Nantinya tidak akan ada istirahat di dalam kepompong. Ada banyak hal yang dilakukan di dalamnya. Dalam fase ini mengharuskan tubuh ulat yang lama dipecah untuk berubah menjadi makhluk baru. Dan pada beberapa jenis ulat, prosesnya bisa memakan waktu yang sangat lama. Harapan besarnya ketika sudah berada dalam rajutan kepompong yang penuh aktifitas itu, kami tetap tenang dan benar-benar dapat mempergunakan waktunya dengan sebaik mungkin.  

Ketika saat yang di tunggu tiba, barulah akan ada kupu-kupu cantik yang bersiap untuk keluar dari rajutan rumah kepompongnya. Sungguh proses menakjubkan yang dipersembahkan semesta.

  
Oleh karena itu "Dalam situasi apapun, jangan biarkan emosimu mengalahkan kecerdasanmu." 
-BUYA HAMKA- 

 










 






Monday, December 21, 2020

Homeschooling itu "Belantara"


Akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali pro kontra tentang apa itu homeschooling. Dari penjabaran tentang cara menyelenggarakannya sampai metode dan kurikulum apa yang sebaiknya digunakan. Boom!!! Membuat saya berpikir apa yang saat ini saya dan keluarga jalani sudah tepat? Kok jadi meresahkan. Saya takut pendidikan si pesekolah rumah saya gagal. Kekhawatiran yang wajar terjadi, untuk itu haruslah secepatnya mencari pencerahan. Meski semakin banyak berselancar untuk mendapatkan bermacam informasi itu pastinya akan semakin membuat bimbang tetapi tetap saya lakukan. Bertukar pikiran dengan sesama homeschool mom dan mengikuti berbagai bentuk community sharing tentang pengalaman-pengalaman keluarga mereka dalam menjalankan homeschooling adalah pembelajaran untuk menemukan titik cerah yang saya cari.

Dan di satu pagi dengan aroma khasnya alam pedalaman saya memasak sambil sesekali memandang hujan deras dari jendela dapur. Mengingat setelah sekian waktu di tengah pusaran rumit soal cerita yang saya ciptakan sendiri ini belum kelar juga, sepertinya lebih baik memutuskan untuk tidak perlu menemukan jawaban apakah homeschooling  yang saya dan keluarga selenggarakan ini sudah tepat atau belum. Kembali saja ke proses awal, ikuti saja ritmenya, dampingi saja semua aktifitasnya. Sesederhana itu? Ya, kalaupun harus belajar dengan banyak buku tidak masalah, tanpa buku dan tidak menghafal apapun tak mengapa, model yang terstruktur maupun tidak, dengan atau tanpa metode, apapun itu bentuknya yang penting si pesekolah rumah menikmati kegiatannya. 

Karena saat memasuki homeschooling zone maka kita seakan berada di tengah belantara. Yang dibutuhkan adalah insting kuat dan mental baja untuk tetap tenang dalam menentukan arah agar dapat menemukan jalan mana yang paling nyaman untuk dilalui menuju tempat yang kita inginkan. Untuk itu bawalah bekal secukupnya, meski nanti di tengah jalan perbekalan menipis janganlah terlalu khawatir, di belantara ada beribu macam cara untuk mendapatkan sesuatu untuk di makan dan di minum karena alam telah sangat berbaik hati menyediakannya. Khawatirlah jika perbekalan terlalu banyak bisa-bisa beban di punggung malah menghambat laju perjalanan.

Pencerahan di tengah derasnya hujan di bulan-bulan penghujung akhir tahun telah memberi lonjakan semangat baru bahwa homeschooling adalah satu keyakinan dari sebuah keluarga yang ingin menghantar anak-anak mereka dengan cara berbeda di tiap-tiap rumahnya. Jadi biarlah di luar sana sedang mempermasalahkan definisi, bentuk dan metode yang seharusnya digunakan. Kembalikan saja kepada kebutuhan keluarga sendiri, yang mengikuti arus hanyalah ikan mati. 

Untuk semua keluarga homeschooling, teruslah belajar, bukalah pola pikir seluas mungkin, gali potensi kekuatan keluarga sedalam-dalamnya. Hempaskan semua keraguan dan pikiran negatif serta ketakutan-ketakutan yang dapat menjegal langkah kita. Bersiap selalu dengan segala kemajuan teknologi sehingga dapat mendidik anak-anak kita sesuai dengan jamannya. 

Karena di dunia ini "Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil." 
-BUYA HAMKA-
















Wednesday, October 21, 2020

Kutai Kartanegara & Nim's Island


Memandang hasil tangkapan dari kamera smarphone inilah yang dapat menggambarkan mengapa saya jatuh cinta pada tempat sunyi meski harus sering bertemu dengan banyak spesies serangga yang selalu saya takuti, Tanah Hulu. Tempat bernaung dari segala macam rasa. Tempat aman bersembunyi dari hiruk pikuk kota. Tempat berteduh dari segala susahnya berjalan di keramaian dunia. Dan disinilah tempat saya duduk terdiam memandang kagum akan ciptaanNya. 

    Saya, dengan semua kekurangannya, bersyukur selalu dapat menjadi produktif di "Negri Dongeng" Kutai Kartanegara ini, meski di "Bumi Biru" Malang pun tetap pula berusaha seproduktif mungkin. Semua itu karena menjadi modern mom  setidaknya bisa menghasilkan sesuatu yang suatu saat nanti dapat di kenang, sekalipun oleh diri saya sendiri. Bersyukur pula karena Dia telah membawa saya dalam takdir terbaik, membersamai ananda dalam semua rutinitasnya. Melihat dia bertumbuh di Kelas Tanpa Sekat, Homeschooling yang sedari awal penyelenggaraannya tidak mengacu pada metode apapun, hanya terstruktur agar ananda selalu disiplin tetapi dijalani sealamiah mungkin sebagaimana lingkungan sekitarnya.

    Untuk kemudian menjadi sangat sering melakukan Lintas Alam adalah karena arus ritme keseharian yang memang tinggal di tengah perkebunan yang bersinggungan langsung dengan hutan. Kondisi saat ini rasanya seperti film Nim's Island yang pernah saya tonton di tahun 2008. Waktu itu saya suka sekali melihat film adventure ini. Film yang bercerita tentang Nim, seorang anak perempuan kecil yang mengikuti orang tuanya melakukan penelitian di tengah laut. Pada penelitian tersebut kapal yang mereka gunakan untuk berlayar terlalu dekat dengan kerumunan paus. Saat terjadi ombak besar, paus-paus itu pun menyerang mereka dan ibu Nim terseret oleh paus tersebut. Menghilang dan tidak kembali lagi. Nim dan ayahnya sangat sedih dan bertekad akan mengelilingi lautan di bumi untuk menemukan ibunya. Namun mereka malah terdampar di pulau tak berpenghuni. Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut. Kemudian Nim mulai berteman akrab dengan hewan-hewan di pulau tersebut. Interaksi dengan orang luar hanya dilakukan kepada kapal barang yang terkadang mereka temui. Kapal barang tersebut memasok keperluan sehari-hari, termasuk buku bacaan. Ya, pada akhirnya Nim menjalani homeschooling di tengah pulau terpencil dengan segala yang berakar pada alam.
    
    Dan saya ingat sekali saat menonton film tersebut saya membayangkan pasti nyaman sekali berada di tengah alam sambil belajar segala hal meski tanpa bersekolah formal. Berkegiatan bersama angin, daun, air, dan bintang di malam hari sungguh satu hal yang waktu itu hanya ada dalam bayangan saya. Dan ternyata Dia membawa saya dalam heningnya Tanah Hulu dengan rutinitas bersama ananda di segala kegiatan yang berujung dengan Nature Walk. Semua mengalir begitu saja bahkan saat rasa jenuh yang juga terkadang singgah, terapinya pun menyatu dengan alam yaitu Forest Bathing. Blusukan di celah-celah daun dan rimbunnya pepohonan untuk menghirup aroma murni hutan hujan tropis memang tidak tertandingi. Tidak ada liburan lain yang saya inginkan selain kembali ke alam meski setiap detik berada dan hidup di tengah derasnya hujan di hari-harinya hutan hujan ini. 

 Itulah mengapa jika ada yang bertanya kenapa betah sekali di perkebunan, jawabnya karena saya jatuh cinta pada alamnya. Ya, Kutai Kartanegara & Nim's Island adalah sekilas bayangan yang menjadi kenyataan. Thanks God. 



    
       
    



Sunday, July 5, 2020

Kejora Bukan Pamer Kerlip

 
Menjadi keluarga homeschooling itu seharusnya memang dapat menginspirasi karena sebagaimana langit malam yang cerah bertaburan bintang ada satu cahaya berbeda dengan ukuran dan terang yang mempesona. Itulah keluarga homeschooling, kejora di langit malam tanpa mendung menutupi. 

Dengan semakin giatnya kehidupan bersosial media adalah satu kesempatan emas untuk "tampil". Bukan untuk pamer keseharian keluarga yang terkadang membuat kejutan tersendiri bagi yang masih awam tetapi bertujuan mensosialisasikan tentang homeschooling, unschooling, school at home, home base education atau apapun istilahnya. 

Keseharian anak-anak homeschooling bukan lah tanpa jadwal, mereka mempunyai rutinitas sendiri sesuai kebutuhan masing-masing. Situasi tempat tinggal mereka pun sangat mempengaruhi kegiatan apa saja yang mereka lakukan di setiap harinya. Bahkan saat mereka sudah menemukan ritme yang tepat tanpa jadwal tertempel di dinding sekalipun mereka sudah dapat menjalani harinya hanya dengan alarm tubuh yang sudah terbiasa dengan kesehariannya tersebut.

Anak-anak homeschooling juga bukan anak-anak manja dengan kehidupan serba santai di rumah, mereka juga kerja keras meraih mimpi-mimpi besarnya meski dengan melintas di satu jalan lengang pilihannya. Mereka tidak butuh pengakuan berlebih karena pelajaran hidup dari kesehariannya sudah cukup membuat mereka dapat berkompeten di bidangnya masing-masing. 

Mereka hanya ingin menjadi diri sendiri tanpa terpasung tuntutan angka dan nilai sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan seorang anak. Itulah mengapa beberapa keluarga memilih menjalani hari-hari mereka dengan menjadi kejora. Tetapi melakukan hal-hal luar biasa yang berbeda dan tetap membumi itu cukup sulit di tangkap mata awam. Pola pikir dan kondisi sekeliling yang masih terdogma bahwa belajar adalah di sekolah bersama teman-teman dan guru-guru, membuat sebagian orang masih belum paham betul bagaimana asiknya berproses dalam homeschooling yang dijalani oleh satu keluarga. 

Masih saja ada yang beranggapan bahwa jika anak-anak sejak kecil dikungkung di rumah dan belajar mandiri, selain akan melahirkan sikap yang individualis juga akan melahirkan keterasingan di masa mendatang karena anak-anak tidak memiliki relasi sosial yang mereka butuhkan. Jika dikungkung tentu saja akan menjadi seperti pemikiran tersebut, tetapi proses homeschooling tidak mengungkung anak. Bentuk pemikiran ini tentu saja harus diluruskan. Dalam pembelajaran sekolah rumah ini malah sebaliknya, telah melahirkan banyak generasi yang mempunyai relasi luas dengan pemikiran sangat terbuka. Karena anak-anak sedari dini dipaparkan bagaimana cara berinteraksi, komunikasi dan sosialisasi lintas usia untuk kemudian dikenalkan secara langsung dengan banyaknya halang rintang dalam hidup melalui pembelajaran tentang life skills. Jadi bukan karena namanya sekolah rumah kemudian mereka hanya berkegiatan di dalam rumah saja tetapi proses belajarnya bisa dimana saja karena dunia begitu luasnya untuk tempat mereka belajar apapun.

Kejora Bukan Pamer Kerlip karena memang dari sekian cahaya tersebut ada yang berbeda terangnya tetapi tidak berkedip karena kejora bukanlah bintang tetapi adalah planet Venus yang tampak bersinar dari Bumi karena pantulan cahaya Matahari. Begitupun dengan keluarga homeschooling, akan terlihat lebih terang karena mereka selalu menjadi keluarga pembelajar yang siap berpeluh di jalannya yang memang berbeda.   

Salam Pembelajar dari kami, Keluarga Homeschooling Hutan Hujan Kalimantan Timur.













Saturday, June 13, 2020

Stupid Mom dalam WAG

 
Saya pernah menjadi Stupid Mom dalam WAG yang menjadi korban bullying, tapi saya memaafkan dan bangkit untuk menjadi Homeschool Mom yang Bahagia dan Produktif.

Beberapa tahun yang lalu saat saya mulai pindah ke perkebunan kelapa sawit karena mendampingi suami yang bekerja sebagai karyawan di perkebunan, media sosial belum seperti saat ini. Meski saya sudah aktif di salah satu platform tapi belum marak pembentukan grup-grup whatsapp. Saya menjalani hari-hari dengan program unschooling untuk ananda yang sangat aktif dan hanya berkegiatan di bidang seni serta rutinitas sebagai ibu rumahtangga biasa yang hidup jauh di pelosok, pedalaman Kalimantan Timur. Hampir tiga tahunan saya menjalani hari-hari sunyi perkebunan, terkadang saja pergi ke kota karena suami sedang mendapat rotasi long weekend atau cuti kerja.

Kemudian di chapter saya harus kembali ke kota untuk mendampingi ananda yang pada saat itu masih berada di jalur formal, saya mendapatkan satu kejutan "menarik" yang akhirnya menjadi salah satu faktor yang membawa saya untuk mendalami homeschooling dan semua konsekuensinya selain karena ananda hatinya juga memilih menjadi homeschooler

Pada waktu itu saya baru saja tergabung dalam whatsapp group yang beranggotakan the mommies dari anak-anak yang berada di satu kelas formal. Saya benar-benar masih buta tentang apa itu whatsapp group dengan berbagai perbincangan dan cara "bermainnya". Sehingga kemungkinan besarnya saya telah melakukan kesalahan dalam bertutur bahasa di whatsapp group dan terjadilah pem-bully-an itu. Berawal dari komentar saya yang mohon ijin tidak ikut dalam rapat paguyuban yang pada saat itu agendanya adalah untuk memilih koordinator kelas ternyata malah berujung dengan tidak baik. Singkat cerita saya sudah di-bully habis-habisan karena saya sempat dikeluarkan dari grup kemudian dimasukkan lagi. Dan lucunya pada saat itu saya tidak paham betul mengapa sampai dihakimi seperti itu, semua terjadi secara tiba-tiba dan perbincangan dalam grup tersebut meluncur deras menyudutkan saya. Bisa jadi karena tutur kata yang saya gunakan keliru, berkomentar yang kurang tepat pada waktu yang tidak tepat pula atau sebab lain sampai hari ini belum saya ketahui pasti. Dan saya juga tidak ingin tahu karena di lain hal saya punya permasalahan yang harus dihadapi pada saat itu, ananda yang masih sangat rewel karena baru masuk sekolah serta masih dalam proses terapi perilaku. Saya akhirnya merasakan juga bahwa "terjebak" dalam WAG itu jika menolak salah, ikut aruspun serba salah karena tidak menjadi diri sendiri, dilema semua orang di era ini. 

Rasanya sungguh seperti naik kapal cepat di tengah gelombang tinggi. Ingin memuntahkan semua ketidaktahuan saya, keterkejutan dan kebodohan saya saat itu kemudian kembali berada di perkebunan, di kehidupan unchool mom yang penuh kegiatan tapi membahagiakan. Saya juga sempat berpikir sepertinya keputusan saya untuk kembali ke kota adalah kekeliruan besar. Saya saat itu hanya seorang Stupid Mom yang baru saja "keluar dari hutan" dengan masih jetlag sana sini dan dengan semua pengalaman baru. Bullying itu benar-benar sangat menyakitkan, jika tidak denngan banyaknya dukungan dari suami, keluarga dan teman-teman terbaik mungkin waktu itu saya sudah langsung kembali ke perkebunan. Tapi kembali saya diingatkan bahwa berada di kota saat itu dengan satu tujuan untuk mendampingi pendidikan ananda.

Di bagian bahagianya, saya memaafkan kejadian tersebut tapi tetap saya ingat sebagai pengalaman berharga meski menyakitkan pada saat kejadiannya. Kemudian saya mengikuti semua kegiatan the mommies meski itu bukan diri saya sebenarnya. Saya jalani saja dengan semangat hanya fokus pada pendidikan ananda. Drama mama-mama muda saya biarkan berlalu, tetapi sebagai titik balik dimana hampir tiap hari saya mulai belajar tentang homeschooling karena saya berpikir sepertinya jalur formal dan semua kegiatannya ini tidak cocok dengan kepribadian saya. Saya bukan anti sosial tetapi lebih merasa menjadi diri saya saat berkegiatan sendiri di rumah. Ternyata ananda pun mempunyai pola pikir yang serupa dengan ibunya. Dia lebih nyaman dan produktif ketika berkegiatan dalam rumah. Tidak ada yang salah dengan suatu pilihan, saya dan ananda bukan jago kandang,  follow your heart itu lebih baik daripada hanya sekedar mengekor tetapi tidak sepenuhnya bahagia.

BOOM ... Setelah hampir dua tahun menjalani sekolah formal, saya dan keluarga memutuskan untuk memilih jalur alternatif, sarana pendidikan lain yang mampu membuat saya dan ananda merasa nyaman, bahagia lahir batin. Bukan kah anak bahagia jika orang tuanya pun demikian, dan saya memilih mempunyai anak yang bahagia dengan ibu yang bahagia juga. 

Kamipun menyelenggarakan homeschooling di tengah damainya suara aliran sungai Belayan, di bawah naungan pepohonan kelapa sawit yang jika tertiup angin kencang akan bersuara menyeramkan tapi entah kenapa saya suka, seperti berada di Negeri Dongeng dengan happily ever after nya. Semua ini  menentramkan sehingga mampu mengeluarkan energi baik untuk mengawal semua proses bertumbuhnya si pesekolah rumah. 

Dan teruntuk mama-mama hebat yang pernah menjadi bagian dari cerita hidup saya, terima kasih untuk semua pengalaman berharganya. Saat ini saya telah menemukan jalan lengang yang membuat saya jauh lebih bahagia dan produktif. Salam semangat menjadi super mom untuk putra-putri tercinta dan terus lah berkarya di bidangnya masing-masing. 



 

Friday, June 12, 2020

Ayah adalah Kepala Sekolah


Seorang ayah dalam struktur homeschooling mempunyai peran sangat penting, selain sebagai Kepala Sekolah juga harus bisa menjadi fasilitator untuk lancarnya proses pembelajaran yang membutuhkan banyak strategi serta kreatifitas tersendiri. Sehingga dalam kondisi terbatas sekalipun tetap bisa memberikan fasilitas yang mencukupi untuk mendukung semua rutinitas si pesekolah rumah. 

Peran ini tidak mudah, perlu pembelajaran di setiap harinya dengan selalu meng-upgrade bentuk parenting yang sesuai dengan kondisi jaman. Ada etika-etika dan norma kehidupan yang di dapat dari didikan orang tua dahulu yang masih harus diterapkan tapi tidak sedikit yang perlu "di modifikasi" karena sudah kurang tepat lagi untuk era digital seperti saat ini. 

Dalam homeschooling yang keluarga saya jalani di tengah perkebunan kelapa sawit ini memang banyak sekali tantangannya. Dan saat suami menjadi Kepala Sekolah bagi anak sendiri yang berpola pikir sedikit berbeda dari kebanyakan anak usia 8 tahun memang perlu satu visi yang beyond tomorrow. Perhitungan yang matang dan setidaknya berpola pikir setahap lebih awal dari pemikiran ananda yang super futuristik tetapi juga sangat rewel di beberapa hal yang tidak disukainya. Mengawal serta mendampingi kegiatan-kegiatan pengembangan kepribadiannya ini haruslah sangat sabar, mengontrol emosi yang kadang kala muncul karena bentroknya beda pola pikir perlu disiasati dengan obrolan-obrolan kecil sebelum tidur. Ini sudah seharusnya dilakukan agar dapat menyatukan dua peran berbeda tersebut, karena di sini seorang Ayah yang Kepala Sekolah adalah juga Kepala Sekolah yang seorang Ayah dari si pesekolah rumah. 

Jika boleh menyamakan dengan posisi seorang ayah saat menjadi karyawan dengan banyak rekan kerja yang berbeda dan dengan sabarnya mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam dunia kerjanya maka alangkah indah pada saat mengawal si pesekolah rumahnya pun juga demikian. Karena saat belajar tentang hidup di sini adalah semua anggota keluarga dimana orang tua lah yang sebenarnya belajar banyak dari tumbuh kembang anak. Malaikat-malaikat kecil tanpa sayap ini hanya melihat bagaimana keseharian orang tuanya kemudian meng-copy paste dalam rutinitas mereka karena anak-anak adalah peniru yang sangat ulung. Jadi jika dikatakan bahwa anakmu adalah cerminan dirimu adalah benar adanya. Apalagi dengan anak yang seharian berkegiatan di rumah tentu saja keluarga inti lah yang kemudian menjadi panutan pertama baginya. 


"Ayah adalah Kepala Sekolah dan Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya adalah sudah semestinya dapat diterapkan dalam setiap keluarga karena tidak hanya untuk keluarga homeschooling saja, salam semangat dalam mendidik anak-anak Indonesia untuk semua keluarga hebat di seluruh Nusantara tercinta ini."